Masalah Kesehatan Mental akibat Tekanan Standar Kecantikan

Masalah Kesehatan Mental akibat Tekanan Standar Kecantikan

Tuntutan standar kecantikan bisa memengaruhi kesehatan mental.

Media sosial, televisi, film, dan platform lain bisa menggambarkan standar kecantikan yang tidak realistis dan menciptakan tekanan bagi orang-orang untuk tampil dengan cara tertentu.

Tuntutan akan standar kecantikan datang dari berbagai sumber, seperti media sosial, orangtua atau pengasuh, dan lingkungan sekitar, seperti dilansir dari Medical News Today.

Standar kecantikan dalam masyarakat memberi tahu orang-orang bagaimana mereka “seharusnya” terlihat.

Misalnya, ada standar tertentu untuk seseorang dianggap “cantik” meliputi bentuk wajah, tinggi dan berat badan, serta bentuk tubuh.

Tekanan ini dapat mempengaruhi kesehatan mental individu. Hal ini dapat menyebabkan peningkatan risiko rendah diri, citra tubuh yang negatif, gangguan makan, dan depresi.

Apa saja kondisi kesehatan mental yang berpotensi dialami seseorang yang merasakan efek tuntutan standar kecantikan? Berikut ulasannya.

Kondisi kesehatan mental akibat standar kecantikan

 1. Harga diri rendah

Menurut survei Dove Self-Esteem Project pada 2017, sebanyak 54 persen perempuan berusia 10-17 tahun di seluruh dunia memiliki harga diri yang rendah hingga sedang.

Penelitian dari 2019 menemukan bahwa 10-30 persen laki-laki merasa tidak puas dengan tubuh mereka, dengan 69 persen di antaranya tidak puas dengan tubuh mereka karena masalah berat badan.

Ketidakpuasan terhadap tubuh dapat menurunkan kualitas hidup seseorang dan memberikan tekanan psikologis.

Hal ini juga dapat meningkatkan risiko kebiasaan makan tidak sehat dan gangguan makan.

Ketidakpuasan terhadap tubuh, juga dapat menyebabkan harga diri yang rendah.

Hal ini dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan. Misalnya, seseorang memilih untuk tidak berada di sekitar orang lain karena merasa tidak nyaman dengan penampilannya.

2. Gangguan makan

Citra tubuh adalah faktor risiko untuk berbagai gangguan makan, seperti anoreksia nervosa dan bulimia nervosa.

Survei Dove Self-Esteem Project pada tahun 2017 menemukan bahwa secara global, lima dari 10 perempuan muda memilih risiko tidak makan atau tidak pergi ke dokter.

Di antara mereka yang kepercayaan dirinya sudah rendah, delapan dari 10 orang membahayakan kesehatannya dengan cara-cara berkaitan gangguan makan tersebut.

Ketidakpuasan tubuh juga dapat meningkatkan risiko menerapkan pola makan yang tidak teratur dan perilaku berbahaya lainnya untuk mengubah penampilan.

Hal ini bisa termasuk terlalu membatasi makan, menggunakan steroid, menggunakan pil diet, dan berolahraga secara berlebihan.

3. Depresi

Penelitian menunjukkan hubungan yang kuat antara ketidakpuasan citra tubuh dan gejala depresi.

Menurut penelitian pada tahun 2020, hal ini terutama terjadi pada perempuan muda dengan kelebihan berat badan atau obesitas.

Penelitian lain pada tahun 2017 menemukan bahwa remaja yang tidak puas dengan citra tubuhnya 3,7 kali lebih mungkin mengalami dan melaporkan gejala depresi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *